IBU AKU KEMBALI :Aku menyukai dunia ini.Ya,aku menyukai dan menikmatinya dengan caraku sendiri.aku menyukai mainan kecilku,buku-buku kecilku,puisi-puisi cerita yang aku kumpulkan dari sana sini,pensil warna warni yang bersamanya yang aku bisa menghabiskan sekian banyak waktu,aku menggoreskannya diatas kertas ini,kadang miring dan kadang tegak,juga buku-buku puisi yang berserakan diatas bantal dan ranjang.itu semua yang menjadikanku betah mengembara di dunia khayal,alam fantasi.
Tidak ada yang bisa mengembalikanku kedunia nyata kecuali ketukan ayah atau ibu di pintu kamar,untuk mengajak makan,meyertai kunjungan sillahturahmi keduanya.atau mengingatkanku untuk shalat.dan biasanya jawabanku hanyalah penolakan atu pura-pura tidak mendengar ketukan itu.
Seringkali ibu berusaha mengajakku keluar dari keasyikanku menyendiri.tetapi aku menggangap usaha ini tamu yang tak di undang dalam duniaku,ku tunjukkan penolakkanku dengan ucapan dan tingkah laku.aku tidak akan pernah lupa ketika suatu hari ibu masak ke dalam kamarku.ia mendapatiku menangis tersendu-sendu.ia begitu terenyuh melihat diriku.ia kemudian duduk disampingku untuk menenangkanku.namun,ketika mengetahui bahwa penyebab tangisanku adalah hanya satu bait puisi,tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali keluar dari kamar,setelah mengucapkan kata-kat penolakan ats tindakkanku ini.
Ia juga berkata bahwa ia akan memberitahukanku urusan ini kepada ayah,terserah apa yang akan dilakukan ayah terhadapku.kepergian ibu kuiringi dengan tuduhan bahwa ia tidak menghargai perasaanku dan tidak menghargai perasaanku dan memahami kesenanganku sama sekali.
Kondisi ini terus berjalan.sampai datang satu hari ketika ayah membuka pintu kamarku tanpa terlebih dahulu mengetuk.kecemasan begitu jelas terlihat dimatanya.ia berseru "Cepat siapkan koper untuk ibu.aku akan segera membawanya kerumah sakit untuk menjalani persalinan.
Tapi sepengetahuanku seharusnya waktu persalinan belum tiba saatnya.ternyata ia datang dua bulan lebih cepat dari perkiraan.kali inilah saat pertama aku merasa bahwa aku adalah bagian dari keluarga ini.aku harus bergerak cepat.
Aku segera bangkit untuk mengambil koper pribadinya lalu mulai mencari-cari dimana biasanya ibu menaru pakaiannya.dengan susah payah aku mempersiapkan koper.segera setelah itu aku kenakan pakaianku dan dalam bilangan menit aku telah didalam mobil bersama ibu.
Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa perempuan ini sangat aku cintai.aku julurkan tangan kekursi di hadapanku.aku cari tangan ibu untuk aku pegang dan aku ringankan rasa sakitnya.akhirnya mobil tiba dirumah sakit,selanjutnya mereka membawa ibu kedalam.saat ibu seakan-akan jarum jam berhenti berputar.
Setelah sekian lama,ayah bertanya kepadda seorang perawat yang bertanggung jawab atas kondisi ibu.ia menjawab bahwa bayi telah dipindahkan ke inkubuator,sedangkan ibu masih berada di bawah pengawasan,sebab tekanan darahnya menurun drastis,di tambah lagi sakit akibat persalinan.segera saja ayah menuju ruang perawatan intensif untuk memastikan kondisi ibu,dari sana ia menuju ruang inkubator untuk memastikan kondisi adik kecilku.saat itu,aku merasakan munculnya keinginan kuat untuk bisa membantu ibu dan adikku melalui ujian ini,tetapi aku tidak tau bagaiman caranya?
Disaat seperti ini,di tengah keinginanku,aku mendapati ayah tengah berdiri di depan pintu sebuah mushalla kecil,dan ia memberi isyarat agar aku bangkit menuju pintu yang lain.akupun masuk dan mendapati diriku berada di dalam ruang yang tenag dan hening,mirip keheningan didalm kamarku.
Saat itu aku mebemukan kembali dia yang hilang dari diriku,yang selama ini aku abaikan,tetapi aku mengetahui bahwa dia tidak akan lalai dariku selamanya.aku segera bangkit mendirikan shalat.aku mengetahui dengan yakin bahwa dia-lah satu-satunya tempatku berlindung,bahwa dia-lah tempatku bernaung yang aku inginkan.
Tidak ada yang bisa mengembalikanku kedunia nyata kecuali ketukan ayah atau ibu di pintu kamar,untuk mengajak makan,meyertai kunjungan sillahturahmi keduanya.atau mengingatkanku untuk shalat.dan biasanya jawabanku hanyalah penolakan atu pura-pura tidak mendengar ketukan itu.
Seringkali ibu berusaha mengajakku keluar dari keasyikanku menyendiri.tetapi aku menggangap usaha ini tamu yang tak di undang dalam duniaku,ku tunjukkan penolakkanku dengan ucapan dan tingkah laku.aku tidak akan pernah lupa ketika suatu hari ibu masak ke dalam kamarku.ia mendapatiku menangis tersendu-sendu.ia begitu terenyuh melihat diriku.ia kemudian duduk disampingku untuk menenangkanku.namun,ketika mengetahui bahwa penyebab tangisanku adalah hanya satu bait puisi,tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali keluar dari kamar,setelah mengucapkan kata-kat penolakan ats tindakkanku ini.
Ia juga berkata bahwa ia akan memberitahukanku urusan ini kepada ayah,terserah apa yang akan dilakukan ayah terhadapku.kepergian ibu kuiringi dengan tuduhan bahwa ia tidak menghargai perasaanku dan tidak menghargai perasaanku dan memahami kesenanganku sama sekali.
Kondisi ini terus berjalan.sampai datang satu hari ketika ayah membuka pintu kamarku tanpa terlebih dahulu mengetuk.kecemasan begitu jelas terlihat dimatanya.ia berseru "Cepat siapkan koper untuk ibu.aku akan segera membawanya kerumah sakit untuk menjalani persalinan.
Tapi sepengetahuanku seharusnya waktu persalinan belum tiba saatnya.ternyata ia datang dua bulan lebih cepat dari perkiraan.kali inilah saat pertama aku merasa bahwa aku adalah bagian dari keluarga ini.aku harus bergerak cepat.
Aku segera bangkit untuk mengambil koper pribadinya lalu mulai mencari-cari dimana biasanya ibu menaru pakaiannya.dengan susah payah aku mempersiapkan koper.segera setelah itu aku kenakan pakaianku dan dalam bilangan menit aku telah didalam mobil bersama ibu.
Untuk pertama kalinya aku merasa bahwa perempuan ini sangat aku cintai.aku julurkan tangan kekursi di hadapanku.aku cari tangan ibu untuk aku pegang dan aku ringankan rasa sakitnya.akhirnya mobil tiba dirumah sakit,selanjutnya mereka membawa ibu kedalam.saat ibu seakan-akan jarum jam berhenti berputar.
Setelah sekian lama,ayah bertanya kepadda seorang perawat yang bertanggung jawab atas kondisi ibu.ia menjawab bahwa bayi telah dipindahkan ke inkubuator,sedangkan ibu masih berada di bawah pengawasan,sebab tekanan darahnya menurun drastis,di tambah lagi sakit akibat persalinan.segera saja ayah menuju ruang perawatan intensif untuk memastikan kondisi ibu,dari sana ia menuju ruang inkubator untuk memastikan kondisi adik kecilku.saat itu,aku merasakan munculnya keinginan kuat untuk bisa membantu ibu dan adikku melalui ujian ini,tetapi aku tidak tau bagaiman caranya?
Disaat seperti ini,di tengah keinginanku,aku mendapati ayah tengah berdiri di depan pintu sebuah mushalla kecil,dan ia memberi isyarat agar aku bangkit menuju pintu yang lain.akupun masuk dan mendapati diriku berada di dalam ruang yang tenag dan hening,mirip keheningan didalm kamarku.
Saat itu aku mebemukan kembali dia yang hilang dari diriku,yang selama ini aku abaikan,tetapi aku mengetahui bahwa dia tidak akan lalai dariku selamanya.aku segera bangkit mendirikan shalat.aku mengetahui dengan yakin bahwa dia-lah satu-satunya tempatku berlindung,bahwa dia-lah tempatku bernaung yang aku inginkan.
mantap dah postingnya,hehe
BalasHapusemang udah lo baca semua?palingan juga baru depannya doang haha
BalasHapus